Feeds:
Pos
Komentar

Tumbuh tak Bertenaga

Badan
Pusat Statistik (BPS) belum lama ini mengeluarkan laporan terkait kinerja perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB).

Dalam laporan itu dinyatakan ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan I-2014 tumbuh 4,71% (y-on-y) melambat dibanding periode yang sama pada tahun 2014 sebesar 5,14%.

Hal yang menggembirakan, dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 10,53%.

Ini artinya, sektor informasi dan komunikasi menjadi salah satu penopang pertumbuhan perekonomian ditengah kondisi makro yang meriang karena nilai tukar rupiah terhadap dollar AS belum juga menguat sejak tahun lalu.

Anomali
Di tataran mikro, kinerja operator dan distributor ternyata tak meriah. Hanya Telkom yang bisa bertahan karena tidak banyak berutang dalam dollar AS walau biaya-biayanya menjadi naik karena ada belanja produksi menggunakan dollar AS.

Indosat dan XL terjerembab dalam kerugian, begitu juga dengan Smartfren. Hal yang sama terjadi juga di kalangan distributor. Pemain seperti Erajaya dan Trikomsel masih menikmati pertumbuhan penjualan, tetapi untuk kinerja bottom line mengalami tekanan karena biaya-biaya terus naik.

Pelaku usaha memang memiliki harapan pada kuartal kedua akan ada peningkatan kinerja mengingat momentum Ramadan dan libur sekolah. Namun, jika melihat situasi makro ekonomi dan politik yang masih gonjang-ganjing akankah hal itu terwujud?

Situasi pun kian berat karena pemerintah banyak berencana mengeluarkan aturan yang justru menimbulkan beban tambahan bagi pelaku usaha.

Padahal, sektor komunikasi selama ini selalu mandiri dan swadaya membangun infrastruktur. Sudah saatnya pemerintah membuktikan janji Nawacita dengan memberikan sentuhan riil bagi pelaku usaha agar ekonomi terus bergairah.

@IndoTelko

sumber :
http://finance.detik.com/read/2014/08/07/143823/2655928/4/2/semua-wilayah-ri-bakal-tersambung-internet

Jakarta -Pemerintah tengah menyusun rencana induk jangka menengah-panjang pengembangan broadband di Indonesia. Diharapkan nantinya jaringan internet dan komunikasi lainnya akan masuk ke seluruh wilayah hingga ke pelosok desa.

Hal ini diungkapkan oleh Menko Perekonomian Chairul Tanjung usai rapat koordinasi di kantornya, Jakarta, Kamis (7/8/2014).

Rapat ini dihadiri oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, Menkominfo Tifatul Sembiring, dan Ketua Harian DeTIKnas Ilham Habibie.

“Indonesia diharapkan memiliki masterplan terkait pita lebar atau broadband. Ini penting bagi perkembangan ke depan,” kata CT, sapaan Chairul Tanjung.

Dalam persiapan perencanaan ini, harus diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) sebagai landasan hukum. Rencana ini akan dibicarakan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar peraturan dapat diterbitkan sebelum pemerintahannya berakhir.

“Saya akan lapor ke presiden dan perpres bisa dibuat rencana broadband dalam industri telekomunikasi,” sebut CT.

Ilham Habibie menambahkan, dalam perencanaan tersebut akan tertuang soal infrastruktur hingga skema pembiayaan. Perencanaan akan dibuat bertahap sesuai dengan kebutuhannya

“Perencanaan ini bagaimana menyambungkan dari backbone itu ke semua sekolah, puskesmas, dan sebagainya. Kemudian apakah pakai pita lebar, fiber optic, atau wireless,” tutur Ilham.

Ia menuturkan, teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Menurut Ilham, ini adalah jenis infrastruktur yang menjadi landasan untuk infrastruktur lainnya.

Dari broadband, akan mencakup jaringan layanan data, internet, ‎telekomunikasi, ATM, dan lainnya. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia akan menikmati jaringan tersebut.

“Semua orang menganggap ini mungkin bukan infrastruktur, karena cenderung disebut tol, bandara, jalan, jembatan, dan sebagainya. Tapi ini adalah infrastruktur. Semua sudah sadar, dan sekarang kita akan mulai,” papar Ilham.

 

Detik.com 27 Juni 2014 : 

Jakarta – Berapa kecepatan koneksi internet broadband yang dinikmati penduduk Indonesia? Angkanya bisa dilacak di laporan terbaru dari Akamai State of the Internet Report, analisis koneksi internet berbagai negara menurut riset perusahaan teknologi Akamai.

Dalam peta koneksi interaktif Akamai, kecepatan internet rata-rata di Indonesia pada kuartal 1 2014 mencapai 2,37 Mbps. Dibandingkan dengan Korea Selatan atau Jepang yang menduduki posisi pertama dan kedua memang masih terpaut sangat jauh. 

Tapi di wilayah Asia Tenggara masih terhitung lumayan. Dengan kecepatan koneksi 2,37 Mbps, Indonesia mengungguli Filipina (2,07 Mbps), Laos (1,5 Mbps), Vietnam (1,95 Mbps), Myanmar (2,03 Mbps), ataupun Kamboja (2,13 Mbps). 

Negara Asia Tenggara yang mengungguli Indonesia misalnya Malaysia (3,52 Mbps), dan Thailand (5,14 Mbps). Akamai sendiri menyatakan pertumbuhan kecepatan internet dunia memang menunjukkan tren bagus alias terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Meski masih ada yang harus ditingkatkan di beberapa negara, tren yang kami lihat tetap sangat positif,” kata David Belson, editor Akamai yang dikutip detikINET dari PCMag, Jumat (27/6/2014).

(fyk/ash) 

I have always t…

I have always thought the actions of men the best interpreters of their thoughts.
JOHN LOCKE

Tahun lama Tahun Baru

2012 kita tinggalkan, menuju tahun baru 2013

 

Selamat tahun baru …

 

JAKARTA, KOMPAS.com –

14 Maret 2012

PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL) dan PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI), Rabu (14/3/2012) ini mengumumkan penandatanganan Penjualan Bersyarat Perjanjian Jual Beli antara BTEL dan Sampoerna Strategic dan Polaris, yang bertindak sebagai pemegang saham STI.

Dari perjanjian tersebut, BTEL memperoleh 35 persen dari saham STI dengan perjanjian dalam tiga tahun ke depan akan menjadi pemegang saham mayoritas. Sebagai imbalannya Sampoerna Strategic akan menjadi pemegang saham BTEL.

“Setelah negosiasi, BTEL dan pemegang saham STI setuju mengintegrasikan operasi bisnis di bawah satu manajemen BTEL. Dalam hal ini BTEL bertujuan untuk mempercepat penetrasi penawaran konvergensi mobile untuk setiap pelanggan di Indonesia,” kata Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie, Rabu ini.

Transaksi ini merupakan langkah awal transformasi besar operasional dan keuangan yang direncanakan BTEL untuk diselesaikan tahun ini. Kerja sama strategis akan menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi entitas baru di empat bisnis utama untuk mencapai keunggulan operasional, keuangan, pelayanan dan kepuasan pelanggan.

“Kami ingin berbagi dalam model bisnis BTEL yang lebih cepat, lebih baik, dan paling terjangkau, yang terbukti sangat efektif dalam merevolusi konektivitas suara dengan mengurangi hambatan harga dan tarif. Ini juga terjadi dalam sistem komunikasi data,” kata Presiden Direktur Sampoerna Strategic, Michael Sampoerna.

Ditambahkan Michael, karena pertumbuhan komunikasi data lambat, karena tingginya investasi infrastruktur berat, harga satuan yang lebih rendah, dan skala yang lebih lambat sampai adanya persaingan yang ketat. “Diharapkan dengan sinergi ini kami bisa meningkatkan bisnis lebih cepat dan lebih besar dalam rangka melayani dan bersaing,” ujar Michael.

Secara teknis keuntungan dari BTEL jelas. Frekuensi 6,25 MHz milik STI dalam 450MHz band akan menambah kapasitas yang cukup untuk BTEL sehingga bisa menawarkan biaya konektivitas data mobile yang lebih rendah, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan eksponensial perusahaan.

Di sisi lain, BTEL memiliki frekuensi 800 MHz band sehingga tentunya akan memberi tambahan kapasitas yang besar untuk perusahaan dalam meningkatkan penetrasi konektivitas suara berbiaya rendah di Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

Di wilayah itu, BTEL sudah mendominasi dengan pangsa pasar 40 persen untuk CDMA. Dengan berintegrasi dengan penetrasi STI di daerah pedesaan Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara Kepulauan dan Bali, juga akan lebih mudah bagi BTEL baru untuk memperbesar pasar di luar Jawa.

“Pelanggan harus menerima manfaat terbesar dari kerjasama ini. Kami bertujuan membuat entitas baru menjadi biaya paling efektif dan tercepat. Operator di Indonesia berkembang dengan menyediakan pengalaman yang paling lengkap dan konvergensi terbaik bagi pelanggan,” ujar Anindya Bakrie.

Semua ngaku murah

Kalau kita lihat iklan operator telekomunikasi sekarang ini, semuanya pasti ngaku yang paling murah – irit – dengan berbagai macam caranya. Lalu, sebenarnya apakah tarif telpon di negeri kita sudah murah ?

Apa pendapatmu ? Tulis komentarnya di sini !

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.