Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Semua ngaku murah

Kalau kita lihat iklan operator telekomunikasi sekarang ini, semuanya pasti ngaku yang paling murah – irit – dengan berbagai macam caranya. Lalu, sebenarnya apakah tarif telpon di negeri kita sudah murah ?

Apa pendapatmu ? Tulis komentarnya di sini !

Quo vadis telekomunikasi 2011 ? Tuliskan pendapatmu !

Mimpi Indonesia broadband, akankah terwujud?
Oleh: Arif Pitoyo, Bisnis Indonesia 07.10.10

Apabila melihat kebijakan broadband di negara lain, maka Indonesia masih beberapa langkah di belakang. Jangankan mewujudkan jaringan broadband sebagai fundamental ekonomi utama, akses ke pengguna rumah tangga pun masih sulit dilakukan.

Selain mahal, kualitas jaringan dan tentu saja peran regulasi masih sangat lemah. Pada awalnya, Uni Eropa mendefinisikan broadband access adalah saluran akses pelanggan di mana kecepatan datanya adalah lebih dari 144 kbps. Namun saat ini, definisi broadband telah jauh berubah seiring dengan semakin terjangkaunya harga kabel serat optik untuk digelar hingga ke rumah-rumah.

Inggris telah menetapkan kecepatan akses 40~50 Mbps untuk download dan 20 Mbps untuk upload di kawasan kota dan 2 Mbps per pengguna untuk program USO/telepon perdesaan akan dicapai pada 2012. Kebijakan pemerintah Inggris tersebut dikenal dengan nama “Digital Britain”.

Selanjutnya, dalam National Plan of Action 2010, Finlandia menargetkan semua rumah penduduk, kantor-kantor pemerintah, dan perusahaan harus memiliki akses ke jaringan teknologi informasi dan komunikasi dengan kecepatan minimal 1 Mbps.

Angka ini direncanakan akan ditingkatkan menjadi 100 Mbps pada 2015 pada setidaknya 99% rumah penduduk, perusahaan, dan kantor pemerintah.

Sementara itu, pemerintah Jerman memilih langkah yang serupa dengan Finlandia. Dalam German Federal Government’s Broadband Strategy ditargetkan bahwa pada akhir 2010 seluruh Jerman harus terhubung ke jaringan dengan kecepatan akses 1 Mbps per user dan ditingkatkan menjadi 50 Mbps pada 2014 untuk minimal 75% rumah tangga.

Pada Oktober 2008, pemerintah Prancis meluncurkan kebijakan Digital France 2012, dengan program USO yang ditargetkan memiliki kecepatan lebih dari 512 kbps4.

Namun pada saat ini, dengan digelarnya fiber optik hampir di seluruh Perancis, target tersebut sudah jauh terlampaui dan diubah targetnya menjadi 20 Mbps atau lebih.

Sementara itu, pada 2001, Jepang meluncurkan kebijakan e-Japan dengan misi utama menjamin setiap warga negara Jepang untuk dapat mengambil manfaat dari teknologi informasi dan komunikasi.

Strategi utamanya adalah membangun jaringan ultrabroadband dengan kecepatan akses 30-100 Mbps untuk rumah-tangga, kegiatan e-commerse, e-Gov, dan lembaga penelitian dan pendidikan.

Per Maret 2009, penetrasi broadband di Jepang telah mencapai 98,8% atau sekitar 52 juta rumah tangga dan penetrasi ultra high speed broadband (fiber to the home/FTTH) telah mencapai 90,1% atau 47 juta rumah tangga.

Dalam rangka mendorong pembangunan infrastruktur jaringan TIK, pada 1995 pemerintah Korsel meluncurkan kebijakan berjudul “Korea Information Infrastructure Initiative (KII:1995-2005)” yang meliputi pembangunan aneka infrastruktur jaringan broadband dan lembaga penelitian & pengembangan.

Dukungan finansial

Pemerintah Korsel memberikan dukungan finansial, perlakuan pajak yang berbeda, dan rekomendasi kredit bank kepada penyelenggara TIK yang ingin membangun jaringannya.

Diawali pada 1999, pemerintah Korea memberi pinjaman sebesar US$77 juta, kemudian di 2000 sebesar US$77 juta ditambah US$70 juta untuk menjalankan strategi baru yang diberi nama IT839 and Broadband Convergence Network programs, dan pembiayaan pembangunan jaringan broadband perdesaan sebesar US$926 juta.

Hingga 2005, China menduduki peringkat-2 dunia dalam hal jumlah pengguna Internet, satu tingkat di bawah Amerika Serikat. Namun demikian, pertumbuhan jaringan broadband China lebih cepat

dibandingkan dengan negara AS.

Menurut ZDNet Research 2006, pada kuartal I/2006, China menambah 3,7 juta saluran broadband, sedangkan AS 3,3-juta saluran.

Pemerintah China telah meluncurkan proyek pembangunan national information infrastructure (NII) berupa jaringan backbone yang disebut “Golden Projects”.

Yang dibangun pertama adalah jaringan backbone yang menghubungkan 15-kota utama di sepanjang pesisir timur China, termasuk Beijing, Shanghai, dan Guang Zhou. Selain itu, pemerintah China juga membangun fiber optik sampai ke desa-desa hingga 2000.

Negara tetangga Malaysia menargetkan hingga akhir 2010 akan dicapai penetrasi broadband ke rumah penduduk mencapai 50%. Pemerintah Malaysia pada Agustus 2006, melalui Kementerian Tenaga, Air, dan Komunikasi bersama MCMC (Malaysia Communication and Multimedia Commission) telah menerbitkan dokumen berjudul “National Broadband Plan: Enabling High Speed Broadband under MyICMS-886”.

Bagaimana dengan Indonesia? Roadmap teknologi informasi dan komunikasi setidaknya 5 tahun ke depan pun belum ada, apalagi rencana yang matang mengenai pembangunan broadband yang terintegrasi pada seluruh sendi perekonomian nasional.

Megaproyek Palapa Ring yang sebelumnya jadi harapan para pengguna telekomunikasi untuk menikmati layanan broadband yang mudah dan murah tak kunjung terlaksana hingga saat ini. Ego operator begitu kuat hingga untuk membangun di kawasan nonkomersial sangat banyak pertimbangannya.

Jaringan bersama

Saat ini, operator cenderung membangun jaringan broadband sendiri-sendiri, sehingga selain memiliki daya tawar rendah terhadap penyedia akses broadband di TIER-1, penumpukan akses yang hanya terbentuk di wilayah barat Indonesia tak dapat dihindari.

Sebenarnya, hanya butuh ketegasan pemerintah saja. Proyek Palapa Ring yang terus berubah metode dan skemanya menimbulkan sikap apatis masyarakat pengguna telekomunikasi. Operator tak benar-benar memiliki niat untuk membangun jaringan broadband yang terintegrasi.

Padahal, seusia dengan amanat dalam UU Telekomunikasi 1999, operator jaringan telekomunikasi yang sudah memiliki lisensi nasional harus menyediakan akses telekomunikasi ke seluruh penjuru Indonesia tanpa kecuali.

Mungkin ada baiknya kebijakan jaringan broadband seperti yang dilakukan pada menara bersama, yaitu pengadaan dilakukan oleh setiap pemda dis eluruh Indonesia, dan operator hanya menyewa saja. Keuntungan yang didapat dari sistem tersebut adalah operator tak harus menyediakan capex, hanya opex yang tidak terlalu tinggi.

Pemda juga bisa mendapatkan retribusi yang tidak kecil, selain tentunya bisa saja menumbuhkan operator lokal sendiri.(api)

http://www.detikinet.com/read/2010/01/29/102621/1288829/319/microsoft-cetak-rekor-berkat-windows-7

Larisnya sistem operasi Windows 7 membuat Microsoft mencatat lonjakan laba sebesar 60 persen. Jumlah keuntungan yang mencapai US$ 6,6 miliar tercatat sebagai rekor perusahaan.

Itulah yang terungkap dalam catatan keuangan periode kuartal kedua fiskal Microsoft, yang berakhir 31 Desember 2009. Jumlah pendapatan total yang diraih mencapai US$ 19,02 miliar, peningkatan 14 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Microsoft pun mengklaim Windows 7 adalah sistem operasi dengan penjualan tercepat dalam sejarah perusahaan. Tercatat sebanyak 60 juta lisensi Windows 7 telah terjual di seluruh dunia.

“Kami menyaksikan rekor keuntungan dan pendapatan, dipicu permintaan besar untuk Windows 7 dan PC,” ucap Peter Klein, Chief Financial Officer Microsoft yang dikutip detikINET dari AFP, Jumat (29/1/2010).

Namun tak semua produk Microsoft menggapai sukses. Penjualan Microsoft Office misalnya, menurun 2,9 persen. Penjualan Xbox dan produk hiburan lain juga anjlok 9,7 persen.

Namun Microsoft optimistis menghadapi ketatnya persaingan di tahun 2010. Tahun ini, Microsoft antara lain berencana merilis software andalannya, Microsoft Office 2010

laba indosat turun 20%

Jakarta – Kinerja Indosat kurang bersinar pada 2009 lalu. Pendapatan usaha turun 1,4% dan laba bersih anjlok 20%. Meski demikian, manajemen masih optimistis mengingat tren positif yang diraih pada kuartal ketiga dan keempat tahun lalu.

Dalam laporan keuangannya tercatat, pendapatan usaha 2009 turun 1,4% menjadi Rp 18,393 triliun di akhir tahun lalu dibanding tahun sebelumnya Rp 18,659,1
triliun. Penurunan besar-besaran juga terjadi pada laba bersih yang anjlok 20,2%, dari Rp 1,878,5 triliun menjadi Rp 1,498,2 triliun.

Penurunan lain juga terjadi pada Earning Before Income Tax, Depreciation and Amortization (EBITDA) sebesar Rp 8,774,4 triliun. Turun 5,6% dibanding tahun sebelumnya, Rp 9,289,2 triliun. Ini berujung pada EBITDA margin 2009 hanya sekitar 47,7% atau turun 2,1% dibanding 2008 sebesar 49,8 persen.

Dari sisi jumlah pelanggan seluler, Indosat juga tak bisa menahan laju penurunan jumlah pelanggan. Dari akhir tahun 2008 sebanyak 36,5 juta pelanggan, di akhir tahun berikutnya, pelanggan Indosat malah merosot 9,3% menjadi 33,1 juta pelanggan.

Anjloknya jumlah pelanggan sedikit terbantu dengan raihan positif di kuartal keempat dengan tambahan 4,4 juta pelanggan. Sebelumnya, di kuartal satu dan dua tahun lalu, Indosat sempat menghanguskan kurang lebih 6 juta pelanggan yang dianggap tidak produktif.

“Kami telah memperlihatkan perbaikan dalam parameter operasional maupun keuangan, di mana telah mulai menunjukkan hasilnya sejak triwulan ketiga, dan berlanjut hingga akhir tahun 2009,” sergah President Director dan CEO Indosat Harry Sasongko dalam keterangannya, Senin (8/3/2010).

Menurutnya, perbaikan-perbaikan positif menjadi bukti nyata atas kekuatan Indosat untuk mampu mengimplementasikan strategi berdasarkan pelanggan yang berkualitas secara berimbang. “Tambahan 4,4 juta pelanggan selular dalam triwulan keempat tahun 2009 mendorong peningkatan pendapatan usaha selular lebih dari 12% dibandingkan triwulan sebelumnya,” jelasnya.

Indosat merupakan operator dengan pangsa pasar terbesar kedua dengan jumlah pelanggan 33,1 juta. Posisinya masih jauh untuk mengejar Telkomsel yang memiliki 82 juta pelanggan. Namun kedudukannya mulai terancam XL yang menguntit dengan angka 31,4 juta.

Dibanding kedua operator tersebut, Indosat bisa dibilang paling suram kinerjanya. Telkomsel meraih pendapatan Rp 40 triliun pada 2009 lalu, naik 10% dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan XL pada tahun yang sama juga mampu mencetak laba Rp 1,7 triliun setelah mengalami kerugian Rp 15,109 miliar di tahun sebelumnya.

Peningkatan laba XL didukung oleh peningkatan pendapatan usaha 14% menjadi Rp 13,9 triliun di sepanjang 2009. EBITDA-nya juga meningkat 21% menjadi Rp 6,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan Telkomsel pada tahun 2010 ini menargetkan pertumbuhan pendapatan 10%.

http://www.detikinet.com/read/2010/03/08/183821/1313937/319/laba-anjlok-20-indosat-tetap-optimistis

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.